Rabu, 29 Januari 2020

alat alat ukur

I. Mengapa besaran pokok hanya ada 7

Oleh: Alexander Iskandar* (Fisikawan)
Banyaknya besaran yang dianggap sebagai besaran pokok atau besaran dasar dan dipakai di berbagai cabang ilmu (bukan hanya dalam bidang Fisika) bertambah dari masa ke masa.
Awalnya besaran fisis ini dibutuhkan untuk keperluan pengukuran praktis. Jadi, dua besaran fisis pertama yang diperkenalkan adalah besaran untuk ukuran panjang dan besaran untuk ukuran massa (massa adalah ukuran yang melekat/inheren atas banyaknya materi yang terkait dengan gerak, massa inersial dan massa gravitasi).
Untuk keperluan praktis pengukurannya, maka pada tahun 1799, dua buah standar acuan yang berupa sebuah batang logam sebagai acuan panjang 1 meter serta sebuah silinder logam sebagai acuan massa 1 kilogram (keduanya terbuat dari platinum-iridium) disimpan pada Arsip Republik (Bahasa Perancis: Archives de la République) di Paris.
Sedikit lebih dari seratus tahun setelahnya, pada tahun 1874, atas dasar kebutuhan pengamatan dalam bidang Astronomi, maka besaran waktu diusulkan menjadi salah satu besaran dasar.
Dikarenakan kebutuhan pengukuran yang semakin banyak jenisnya (bervariasi) dan kebutuhan akan kesepakatan yang diterima oleh seluruh negara di dunia, maka pada 20 Mei 1875 ditandatangani perjanjian mengenai ukuran meter secara internasional, dan berdasarkan ini dibentuklah Biro Internasional untuk Ukuran dan Timbangan (Bahasa Perancis: Bureau International des Poids et Mesures/BIPM, atau dalam Bahasa Ingggris: International Bureau of Weights and Measures).
Biro Internasional untuk Ukuran dan Timbangan ini menyelenggarakan Konferensi Umum untuk Berat dan Pengukuran (Bahasa Perancis: Conférence Générale des Poids et Mesures/CGPM, atau dalam Bahasa Inggris: General Conference on Weights and Measures) untuk mendiskusikan perjanjian dan standar atau acuan internasional yang akan dipakai diseluruh dunia.
Pada konferensi CGPM ke 10 tahun 1954, ditentukanlah 6 besaran dasar fisis, yaitu besaran yang menggambarkan ukuran panjang, massa, waktu, arus listrik, temperatur termodinamika, dan intensitas cahaya (dengan satuan dasar meter, kilogram, detik, ampere, kelvin, dan candela).
Barulah pada CGPM ke 14 tahun 1971, banyaknya besaran dasar fisis menjadi 7 buah seperti yang dikenal sekarang sebagai Sistem Internasional (SI) dengan masuknya besaran yang menyatakan ukuran banyaknya partikel dengan satuan mol (karena kebutuhan pengukuran dalam bidang Kimia).Seperti yang diungkapkan di atas, penetapan 7 besaran dasar fisis dan satuan standarnya (acuannya) yang dikenal dengan nama SI, didasarkan pada keperluan praktis pengukuran yang berkembang pada waktu yang bersangkutan. Di samping kebutuhan praktis tersebut, ketujuh buah besaran dasar ini juga mendefinisikan dimensi dari besaran yang diukur.

2. Berapa jumlah besaran turunan

Besaran Turunan (Derived Quantities)Besaran turunan adalah besaran yang satuan satuannya diturunkan dari satuan-satuan besaran pokok. Jumlah besaran turunan sangat banyak, semakin berkembangnya ilmu fisika, dimungkinkan akan muncul lagi besaran turunan yang baru. Contoh besaran turunan yang sekarang dikenal dapat kamu lihat pada tabel berikut ini.
                           
Pada pembahasan alat ukur sebelumnya, seluruhnya termasuk alat ukur besaran pokok. Bagaimanakan mengukur besaran turunan? Saat ini banyak besaran turunan yang dapat diukur secara langsung, artinya sudah ada alat ukurnya. Misalnya, tekanan udara diukur dengan barometer, gaya diukur dengan dinanometer. dan volume air diukur dengan gelas ukur. Sementara itu untuk mengukur luas atau volume suatu benda yang bentuknya beraturan kita dapat menggunakan rumus matematika. Ayo buka lagi pelajaran Matematika SD yang sudah kamu pelajari :).

3. Bagaimana aturan perkalian dan penjumlahan angka penting


Aturan Angka Penting


Hasil pengukuran berupa angka-angka atau disebut sebagai hasil numerik selalu merupakan nilai pendekatan. Menurut kelaziman hasil pengukuran sebuah benda mengandung arti bahwa bilangan yang menyatakan hasil pengukuran tersebut. Jika sebuah tongkat panjangnya ditulis 15,7 centimeter. Secara umum panjang batang tersebut telah diukur sampai dengan perpuluhan centimeter dan nilai eksaknya terletak di antara 15,65 cm hingga 15,75 cm.
Seandainya pengukuran panjang tongkat tersebut dinyatakan sebagai 15,70 cm berarti pengukuran tongkat telah dilakukan hingga ketelitian ratusan centimeter.
Pada 15,7 cm maka terdapat 3 angka yang pentingsebagai hasil pengukuran. Pada pelaporan hasil pengukuran 15,70 cm berarti terdapat 4 angka yang penting sebagai hasil pengukuran. Dengan demikian angka penting adalah angka hasil pengukuran atau angka yang diketahui dengan “cukup baik” berdasarkan keandalan alat ukur yang dipakai.
Misalnya dilaporkan hasil pengukuran massa sebuah benda 5,4628 gram dapat dinyatakan bahwa hasil pengukuran tersebut memiliki 5 angka penting.
Berikut aturan angka penting yang umum  :
  1. Angka yang bukan nol adalah angka penting,
    misal : 14569 = 5 angka penting, 2546 = 4 angka penting
  2. Angka nol di sebelah kanan tanda desimal dan tidak diapit bukan angka nol bukan angka penting,
    misal : 25,00 = 2 angka penting
    25,000 = 2 angka penting
    2500 = 4 angka penting ( mengapa ? sebab tidak ada tanda desimalnya)
    2500,00 = 4 angka penting
Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol atau setelah tanda desimal bukanangka penting.
Misal : 0,00556 = 3 angka penting
0,035005 = 5 angka penting (karena angka nol diapit oleh angka bukan nol)
0,00006500 = 4 angka penting
  1. Angka nol yang berada di antara angka bukan nol termasuk angka penting. Misal : 0,005006 = 4 angka penting
  2. Dalam penjumlahan dan penguranganangka penting, hasil dinyatakan memiliki 1 angka perkiraan dan 1 angka yang meragukan. Contoh : 1,425 + 2,56 = 3,985 dan hasilnya ditulis sebagai 3,99.
    (I) 25,340 + 5,465 + 0,322 = 31,127 ditulis sebagai 31,127 (5 angka penting)
    (II) 58,0 + 0,0038 + 0,00001 = 58,00281 ditulis menjadi 58,0
    (III) 4,20 + 1,6523 + 0,015 = 5,8673 ditulis menjadi 5,87
    (IV) 415,5 + 3,64 + 0,238 = 419,378 ditulis menjadi 419,4
    Pada  contoh (I) ditulis tetap karena kesemua unsur memiliki angka yang berada di belakang tanda desimal jumlahnya sama.
    Pada contoh (II) ditulis menjadi 58,0 karena mengikuti angka penting terakhir aalah angka yang diragukan kepastiannya.
    Pada contoh (III) ditulis menjadi 5,87 karena mengikuti aturan angka penting terakhir ialah angka yang diragukan kepastiannya. Hal yang sama juga ditulis sebagaimana contoh (IV).  
  3. Dalam perkalian dan pembagian, hasil operasi dinyatakan dalam jumlah angka penting yang paling sedikit sebagaimana banyaknya angka penting dari bilangan-bilangan yang dioperasikan. Hasilnya harus dibulatkan hingga jumlah angka penting sama dengan jumlah angka penting berdasarkan faktor yang paling kecil jumlah angka pentingnya.
    Contoh : 3,25 x 4,005 = …
    3,25 = mengandung 3 angka penting
    4,005 = mengandung 4 angka penting
    Ternyata ada perkecualian sebagaimana contoh berikut yaitu 9,84 : 9,3 = 1,06 ditulis dalam aturan angka penting sebanyak 3 angka penting seharusnya menurut angka penting dalam perkalian/pembagian harus ditulis sebagai 1,1 (dalam 2 angka penting) tetapi perbedaan 1 di belakang tanda desimal pada angka terakhir 9,3 yakni 9,3 + 0,1 menggambarkan kesalahan sekitar 1% terhadap hasil pembagian (kesalahan 1% diperoleh dari 0,1:9,3 kemudian dikali seratus persen). Perbedaan dari penulisan angka penting 1,1 dari 1,1 + 0,1 menghasilkan kesalahan 10% (didapat dari 0,1 dibagi 1,1 kemudian dikali 100 persen). Berdasarkan analisis tersebut, maka ketepatan penulisan jawaban hasil bagi menjadi 1,1 jauh lebih rendah dibandingkan dengan menuliskan jawabannya menjadi 1,06. Jawaban yang benar dituliskan sebagai 1,06 karena perbedaan 1 pada angka terakhir bilangan faktor yang turut dalam unsur pembagian (9,3) memberi kesalahan relatif sebesar (kira-kira 1%) atau dapat ditulis sebagai 1,06 + 0,01
    Alasan yang serupa juga diberikan pada soalan 0,92 x 1,13 hasilnya ditulis sebagai 1,04 dibandingkan menjadi 1,0396 (yang sudah sangat jelas lebih dari faktor angka penting paling sedikit yang diproses dalam pembagian tampak jika ditulis 1,039 memiliki 4 angka penting, jika ditulis 1,0396 memiliki 5 angka penting).
    Jika dikalikan, hasilnya diperoleh menjadi 13,01625 maka hasilnya ditulis menjadi 1,30 x 101
  4. Batasan jumlah angka penting bergantung dengan tanda yang diberikan pada urutan angka dimaksud. Misal : 1256= 4 angka penting
    1256 = 3 angka penting (garis bawah di bawah angka 5) atau
    dituliskan seperti 1256 = 3 angka penting (angka 5 dipertebal) 
Catatan :
Berdasarkan buku Schaum Fisika edisi 8 karangan Bueche (1989) bilangan nol (0) kadang-kadang dinyatakan sebagai angka penting kadang pula bukan angka penting karena angka nol hanya menunjukkan letak tanda koma sebagai tanda desimal.
Sumber pembanding : Seri Buku Schaum karangan F.J. Bueche alih bahasa Budi Darmawan, Msc (ITB) – Penerbit Erlangga, 1989 (judul asli : Theory and Problem of College Physics 8 ed)

Senin, 27 Januari 2020

Perkembangan peserta didik

I. Individu sebagai Suatu Kesatuan

Menurut Dr. A. Widiada Gunakaya S.A., S.H., M.H. dalam bukunya yang berjudul hukum hak asasi manusia bahwa stilah individu sebagai suatu terminologi diambil dari kata individium yang berasal dari bahasa Latin yang berarti tidak terbagi. Jadi secara etimologi, kata individu mengandung arti tidak terbagi atau terbagi-bagi atau merupakan satu kesatuan. Jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi individed yang diketahui terbentuk dari kata in dan divided, in dalam kata individed berarti tidak, sedangkan divided berarti terbagi, jadi in yang diikuti dengan devided berarti tidak terbagi atau terbagi-bagi. Dengan demikian, dalam bahasa yang lebih lugas, kata individu dapat diterjemahkan sebagai "suatu kesatuan yang tidak bisa dibagi-bagi".

II. Gejala – Gejala Sebagai Gambaran Berkembangnya Berbagai Aspek dalam Diri Individu

Adapun gejala – gejala yang biasanya tampak sebagai gambaran berkembangnya berbagai aspek dalam diri individu adalah sebagai berikut :

1.Aspek jasmani atau fisik

Gejala yang timbul pada aspek fisik antara lain:

a. Pertumbuhan payudara pada wanita

b. Lekum/jakun pada remaja pria

c. Kulit makin halus pada wanita

d. Otot makin kuat/kekar pada pria


2. Aspek intelek

Gejala yang tampak pada aspek intelek antar lain :

a. Perbedaan secara kuantitatif dna kaulitatif

b. Semakin berkembangnya berpikir abstrak

c. Dapat memecahkan masalah yang bersifat hipotetik.


3. Aspek emosi

a. Ketidakstabilan emosi pada anak remaja.

b. Sikap emosional yang meluap-luap.

c. Semakin mampu mengendalikan diri.


4. Aspek sosial

a. Memilikli sikap toleran, empati, sertas memahami dan menerima pendapat orang lain

b.Semakin santun dalam menyampaikan pendapat maupun kritik kepada orang lain.

c.Adanya keinginan untuk selalu bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

d.Semakin senang tolong menolong.

e.Bersedia memberikan sesuatu yang dibutuhkan orang lain.

f.Hormat, sopan, ramah dan menghargai orang lain.


5.Aspek bahasa

a.Bertambahnya perbendaharaan kata.

b.Mahir dan lancer dalam menggunakan bahasa dengan memilih kata yang tepat penggunaan tekanan kalimat tepat dan membuat variasi kalimat.

c. Dapat memformulasikan kalimat dengan baik dan benar dalam menjabarkan idea tau konsep.

d.Dapat memformulasikan kalimat dengan baik dan benar untuk meringkas id eke dalam deskripsi singkat.


6. Aspek bakat khusus

Bakat merupakan kemampuan tertentu atau khusus yang dimiliki oleh seorang individu yang hanya dengan rangsangan atau sedikit latihan, kemampuan itu dapat berkembang dengan baik. Di dalam definisi bakat yang dikemukakan Guilford (Sumadi: 1984), bakat mencakup tiga dimensi, yaitu (i) dimensi perseptual, (ii) dimensi psikomotor, dan (iii) dimensi intelektual. Ketiga dimensi itu menggambarkan bahwa bakat tersebut mencakup kemampuan dalam pengindraan, ketepatan dan kecepatan menangkap makna, kecepatan dan ketepatan bertindak, serta kemampuan berpikir inteligen.


7. Aspek nilai, moral dan sikap

a.Pandangan hidup semakin jelas dan tegas

b.Memahami hal yang baik dan buruk serta tindakan yang boleh atau tidak boleh dilakukan.

c.Menghargai dan menaati serta menerapkan nilai dan norma.

d.Menentang kebiasaan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku.


III. Perbedaan Karakteristik Individual.

Berbagai aspek dalam diri individu berkembang melalui cara yang bervariasi dan oleh karena itu menghasilkan perubahan karakteristik individual yang bervariasi pula. Perbedaan perkembangan berbagai karakteristik individual itu tampak dalam aspek – aspek yang ada pada setiap diri individu sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :

1.Perbedaan arakteristik individual pada aspek fisik.

Perbedaan perkembangan karakteristik secara individual pada aspek fisik tampak dengan gejala-gejala:

a.Ada anak yang lekas lelah dalam pekerjaan fisik, tetapi ada yang tahan lama.

b.Ada yang dapat bekerja dengan cepat, tetapi ada yang sangat lambat.

c.Ada yang tahan lapar, tetapi ada yang tidak tahan lapar.


2.Perbedaan karakteristik individual pada aspek intelek

a.Ada anak yagn cerdas, tetapi ada yang kurang cerdas

b.Ada yang dapat segera memecahkan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan intelektual, tetapi ada yang lambat bahkan tidak mampu sama sekali.

c.Ada yang sanggup berpikir abstrak dan kreatif namun ada yang hanya sanggup berpikir hanya jika disodorkan wujud bendanya atau dengan bantuan benda tiruannya.


3.Perbedaan karakteristik individual pada aspek emosi

a. ada anak yang mudah marah, ada yang penyabar

b.Ada anak yang perasa, ada yang tidak mau peduli

c.Ada anak yang pemalu atau penakut, ada yang pemberani



4.Perbedaan karakteristik individual pada aspek sosial

a. Ada anak yang mudah bergaul, tetapi ada pula yang sulit bergaul.

b.Ada anak yang toleran dan ada yang egois

c.Ada yang mudah memahami perasaan temannya, ada yang maunya menang sendiri

d.Ada yang memiliki kepedulian social yang tinggi, tetapi ada pula yang kurang peduli dengan lingkungan sosialnya.

e. Ada anak yang memikirkan kepentingan orange lain, ada pula yang hanya memikirkan diri sendiri.


5. Perbedaan karakteristik individual pada aspek bahasa :

a. Ada anak yang mudah berbicara dengan lancer, ada pula yang gugup.

b. Ada anak y ang dapat berbicara secara ringkas dan jelas, tetapi ada pula yang berbelit-belit dan tidak jelas.

c. Ada anak yang berbicara dengan intonasai yang menarik, ada pula yang monoton.


6. Perbedaan karakteristik individual pada aspek bakat

a. Ada anak yang sejak kecil mudah memainkan alat musik, namun ada juga yang sampai dewasa tidak dapat memainkan alat musik.

b. Ada anak yang mudah melukis, namun ada pula yang sangat sulit.

c. Ada anak yang cepat menghafal dan menyanyikan lagu dengan baik, tetapi ada pula yang sulit.


7. Perbedaan karakteristik individual pada aspek nilai, moral dan sikap

a. Ada anak yang taat norma, ada yang tidak.

b. Ada anak yang berperilaku bermoral tinggi, ada yang tidak bermoral atau tidak senonoh

c. Ada anak yang sopan dan santun, tetapi ada yang seenaknya saja sendiri atau tidak punya sopan santun.









.

(UAS) Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu. Hello guys👋🏻 kembali lagi dengan saya Yuyun Lestari. Saya ingin membagikan tugas UAS mata...